Rabu, 10 April 2013

Jejak Karya_Puisi /6/


AWAL APRIL
Dalam sepinya malam yang berlari kelam
ada geliat duka yang kutemukan
ketika seluruh asa bermuara pada sekat-sekat rasa
yang berakhir di pengharapan tak bertepi
di awal April ini ada rindu menumpuk di jantungku
mengais satu demi satu kenangan
lalu perlahan mengaduk almanak
agar puluhan angka itu tak mengulang semua ingatan.
            Fokus UMSU, April 2013





















SEBENARNYA MIMPI
Pelan-pelan harus terbatasi segala ruang
seketika benih-benih embun itu jatuh menjauh
terbias pada sela-sela dedaun selebar hati
kalbu yang siap disinggahi
dilumuri segala elegi yang melesat kesat
aku pahami rasa yang demikian hampa
menjunjung segala fiksi menjelma sebenarnya mimpi.
            Fokus UMSU, April 2013

SENJA YANG HIJAU
Ini senja di mana aku terakhir kali melihat senyummu
lesung pipi, hangatnya jemari dan manisnya es krim
merangkul kita di waktu yang sendu
meluapkan segala cerita, ihwal segalanya
dan saat itu aku tak pernah berpikir kehilangan matahari
seperti kehilanganmu
dan semesta adanya hanya fana.
            Fokus UMSU, April 2013

HUJAN KITA
Aku tak pernah alpa meletakkanmu di rerintiknya hujan
terlebih ketika hujan senja yang tak pernah membuat gigil
menemukan sketsa wajahmu di antara bening tetesnya
serupa sebulan lalu yang sama kisahnya
ini hujan kita yang sekian
kunikmati sendiri tanpamu dan secangkir kopi
tanah basah mengingatkanku
padamu yang berlalu sebelum hujan reda.
            Fokus UMSU, April 2013

Terbit di Harian Analisa-Rabu 10 April 2013

Sabtu, 30 Maret 2013

Kedukaan Ibu


Aku lelah. Ketika tubuh enggan bersemangat memacu degup jantung. Seakan ada yang membatasi dalam sekat-sekat pengharapan hidupku. Mencoba memahami tiap beban yang menimpa tetubuh yang semakin lemah tak berdaya. Aku menahan dera yang mengganas dalam penghidupan. Menjaga ibu menguasai segala pikirannya. Agar tak jadi mengambang dan mengawan tak tentu arah. Seolah ruas yang menjadi penghalang ketika aku harus merangkai aktifitas menjadi tahapan peraduanku menuju masa depan. Namun bukanlah suatu sengketa yang harus aku perdebatkan dengan Tuhan saat penjagaanku dan beban yang ditumpahkan padaku harus diadukan menjadi sub-sub judul yang memperparah keadaannku saat ini. Segala riwayat beban harus kulakoni meski dengan terjalnya jalan mengalungkan ibu dengan cinta kasih yang juga pernah beliau berikan padaku. Rasa hormatku melunturkan kesakitan dan segala lelah yang tumbuh lalu layu saat kembali teringat sayangnya ibu padaku.
“Ibu bukanlah beban kehidupan yang harus diratapi, beliau adalah cinta yang Tuhan titipkan. Maka aku harus menjaganya tanpa harus menganggap semua ini adalah risalah siksaan.’’
Ibu, kini sering kali melamun. Tak mau makan dan sering bertindak aneh. Semenjak kecelakaan yang menimpa ayah empat bulan lalu, beliau seperti kehilangan setengah dari jiwa sadarnya. Kecelakaan tragis itu menggiring kepergian ayah kala itu. Kematian menjenguk ayah saat ia akan berangkat mengantar surat ke kantor pos untuk adiknya yang tak lain adalah pamanku yang berada di Jawa. Setiap bulannya, aku tak pernah alpa mengantarkan surat itu ke kantor pos. Namun kali ini, entah mengapa ayah ingin sekali mengantar surat itu sendiri ke kantor pos.
“Waris, hari ini biar ayah yang mengantar surat ini ke kantor pos ya. Kamu di rumah saja menjaga ibu.” Ucap ayah sesekali membenahi kemejanya.
“Kenapa ayah yang mengantarnya? Biasanya toh Waris yang mengantarkannya.”
“Tak apa, ayah hanya ingin sesekali keluar rumah. Tidak apa-apa, kan?”
“Baiklah kalau itu kehendak ayah, Waris hanya bisa menuruti. Ayah hati-hati saja di jalan.” Ingatku pada ayah yang akan hendak melangkah keluar.
Tak lupa ia pamit pada ibu. Kedua orang tuaku jarang sekali bertengkar. Mereka sangat rukun. Namun sayang mereka hanya dianugrahi satu anak yaitu aku. Aku bahagia memiliki mereka, meski hanya bertiga, keadaan rumah sering ramai dengan candaan kami.
Berbeda dengan sekarang, kematian yang menjenguk ayah mengajaknya ke tempat muasal kematian itu ada. Sontak, kejadian ini membuat ibu lupa diri. Ibu tak bisa menerima musibah ini. Beliau sering tertawa sendiri, tatapannya kosong dan tak jarang mengais sendu pada pelupuk matanya.
Aku galau tak berkesudahan. Ibu sulit dikendalikan. Aku tak pernah membiarkan ibu keluar dari rumah. Selain khawatir atas keadaan luar yang bisa kapan saja menimpa ibu. Beliau juga menimbulkan kekhawatiran bagi tetangga-tetangga di sekitar rumahku. Pernah, saat ibu duduk di beranda rumah. Anak-anak mendatanginya. Menatapnya dengan pandangan sinis dan ocehan yang sangat mengganggu ibu saat itu. Penampilan ibu yang tak karuan membuat mereka aneh dan malah semakin mendekati dan mengganggu ibu. Bukannya aku tak mengurusinya, aku sudah memandikannya, menyisir rambutnya, memberinya makan, bahkan merapikan segala hajatnya. Tapi semua percuma, namun sungguh aku tak pernah lelah melakukannya.
“Orang gila… Orang gila…” teriak anak-anak itu beramai-ramai, mengusiknya dan seketika ibu merasa terancam.
Ibu berteriak sekerasnya, mengejar semua anak-anak itu hingga mereka berhamburan bagai pepasir yang tertiup angin. Luntang lantung mereka melindungi diri dan masuk ke rumah masing-masing. Anak-anak yang masih berlari dikejar ibu sambil melempari mereka dengan batu-batu kecil yang terjangkau olehnya.
Di hari lain, tanpa sepengetahuanku ibu keluar rumah dan berjalan mengelilingi perumahan tempat tinggalku. Saat itu aku sedang memperbaiki barang-barang elektronik yang rusak dan melimpah di dalam kamarku, itulah pekerjaanku Aku sudah memberi ibu makan siang dan membiarkannya di kamar setelah beliau mengusirku pergi dari kamarnya. Namun kali ini penjagaanku lemah. Ibu dianggap mengganggu ketenangan masyarakat. Dari pengakuan mereka, beliau mengusik anak-anak mereka saat bermain di taman. Padahal sepengetahuanku, ibu hanya terbiasa diam di rumah. Ibu tak akan mengusik bila tidak merasa terancam.
Derap langkah kaki seakan menyerang datang ke rumahku. Berisik dan terusik segala isi rumah ini. Segerombolan masyarakat mendatangi rumahku. Hawanya terasa sangat panas. Mereka marah-marah tak terkendali. Menghujat ibuku dan mencoba mengusirnya dari tempat tinggalku.
“Hei, bawa ibumu pergi dari sini! Ia membuat kami tidak tenang. Ia menakut-nakuti dan mengusik anak-anak dan mengganggu ketenangan warga! Bawa ibumu jauh-jauh dari sini!!” bentak salah satu warga dengan amuk kemarahan serupa bara yang merah.
Aku keluar dari rumah, ledakan suara mereka semakin kasar.
“Pergi dari sini, jangan kembali lagi! Enyah dari hadapan kami!” teriakan-teiakan itu penuh di telinga dan pikiranku.
“Ah, apa lagi ini Tuhan. Cobaan apa lagi yang mendarat ke beranda rumahku saat ini.” Ucap batinku disertai gemeletar tubuh yang melemah. Bingung yang mendera seakan sulit melawan puluhan orang yang kini menghujat aku dan ibu untuk pergi meninggalkan rumah peninggalan ayah ini. Wajah memelasku semakin membuat mereka marah tak karuan. Dentuman kerusuhan semakin tergambar jelas di depan mataku. Sepatah bahkan sebait katapun tiada mampu merangkap ke telinga mereka.
“Ibumu itu sudah gila, bawa saja ia ke rumah sakit jiwa atau pasung dalam rumah.  Jangan sekalipun izinkan ia keluar dari rumah, jika kau tak mau ada korban karena ibumu yang sudah tidak waras itu.” Hujat ibu berbadan gempal kepadaku sambil mengarahkan telunjuknya ke arahku. Yang lain mengiyakan ucapannya. Prahara semakin menjadi, aku tak diberikan waktu sedikitpun untuk bicara. Aku seakan siap mati dikeroyoki segala hinaan hingga tubuhku lebam kebiruan.
Tapi aku harus membela diri, tak bisa kubiarkan mereka terus menghujat ibuku. Mereka tak bisa main hakim sendiri dengan mengusir aku dan ibu seenak jidat mereka.
“Tenang semua!! Baiklah, bila kalian ingin aku dan ibuku pergi, maka kami akan pergi. Tapi aku tidak akan membiarkan ibuku masuk ke rumah sakit jiwa apalagi memasungnya. Kami akan pindah sesuai kehendak kalian. Tapi aku mohon jangan sesekali kalian sentuh rumah peninggalan dari almarhum ayahku ini. Aku dan ibuku akan pindah tapi rumah kami tetap disini. Sekarang kalian boleh pergi dan berhenti membuat kerusuhan di depan rumahku. Bukankah dengan begini kalian sama saja seperti orang gila yang mengganggu ketenangan orang lain. Maka seharusnya yang harus dibawa ke rumah sakit jiwa ataupun dipasung adalah kalian semua!.”
Yah, kali ini aku yang bicara hampir seperti orang gila. Membuat mereka ketakutan dan pergi dari rumahku dengan ocehan-ocehan yang menghujat dan mengiringi langkah mereka kembali entah kemana mereka mau kembali. Rumahku kembali sepi. Ibu ketakutan di sudut kamar ketika aku masuk. Pastinya karena kerusuhan yang baru saja terjadi membuatnya ketakutan dan merasa terancam. Wajahnya cemas, bergetar disertai tangisan yang tumpah membasahi wajahnya. Ah, beliau memeluk foto alhamarhum ayah. Sudah kuduga, ibu tidak gila. Ia masih ingat ayah dan cara memeluk lelaki kecintaannya itu penuh dengan ketulusan dan kasih sayang.
“Tenang ya bu, semua akan baik-baik saja. Waris akan menjaga ibu, tapi kita harus segera pindah dari sini. Ke tempat yang lebih membuat ibu tenang. Di sini tidak baik untukmu bu.” Ucapku lembut menenangkan ibu sembari mengangkatnya kembali ke dipan agar beristirahat setelah mendengar segala hujatan yang membuatnya lelah. Ibu menatap wajahku. Tergambar jelas dari matanya bahwa beliau masih sangat menyayangiku.
Embun yang jatuh dari hijaunya dedaunan dan membasahi tanah desa ini membuat ibu jauh lebih tenang. Desa ini jauh dari hingar bingar penduduk kota yang garang dan kasar. Pun terasing dari suara riuh kendaraan yang begitu mengganggu. Aku juga dapat dengan tenang melanjutkan pekerjaanku sebagai servis barang elektronik. Meskipun tidak begitu besar upahnya, namun mampu mencukupi kebutuhan aku dan ibu. Warga di desa ini juga sangat ramah, mereka mengerti keadaan kami. Bila tidak mengganggu maka tak akan ada yang merasa terganggu.
Sebulan atau dua bulan sekali aku dan ibu tetap mengunjungi rumah peninggalan almarhum ayah. Tempat dimana ibu pernah dihujat tapi juga tempat bergumulnya kenangan-kenangan yang seringkali menumbuhkan tangis atas nama kerinduan kenangan itu. Sekedar membersihkan isi rumah sekaligus memantau keadaan rumah agar tetap utuh tanpa seorangpun yang berani mengusiknya. Ibu terlihat sangat bahagia bila kuajak ke rumah kami di kota. Beliau tersenyum sendiri bila duduk di ruang keluarga. Sambil memandangi foto almarhum ayah yang masih sangat tampan. Namun, kegiatanku membersihkan dedebu rumah peninggalan ayah sering terhenti sebab terkejut mendapati ibu yang menangis dan menjerit secara tiba-tiba.

Fokus UMSU, November 2012
Terbit di Analisa-Rabu, 13 Maret 2013

Jejak Karya_Puisi /5/


Musim Kering
Musim ini ada yang tergantikan
ketika harus seminggu dijejali prasangka
musim kering nuansa duka
tersadar sosok-sosok peneman sepi
lebih penting dari musim semi.

Lembar Pertama
Masih ingatkah?
ketika ada namamu di tiap lembar pertamaku
seakan menenuhi semua kertas
lalu aku nanar pada kalimat yang terangkai
penuh tanya yang berakar
terpendar pada setiap jantung yang berdebar
Ti, kata di setiap awal baitmu
masihkah?

Langit Biru, An
Di senja kemarin hujan adalah teman baik
saat kita menghitung jatuh rintiknya
sambil menengadah penuh harap
“semoga tak terpisah”.
Lalu kini senja menatap sinis hujan
akupun begitu
bersebab waktu memilih jadi batu
beku laku yang berujung sendu.

Medan Fokus UMSU 2013
Terbit di Medan Bisnis-Karya Belia, 24 Maret 2013

Selasa, 26 Februari 2013

Jejak Karya_Puisi /4/



Malam Rapuh
Malam semakin rapuh dan bulan lusuh
bahkan tanpa disadari cahaya mendadak pergi
aku malah turut tak bergeming
menggelayuti seranting rindu
mencerna asa hingga terbuang
menjadi barang hampa tak terbaca
berkisah ihwal derita atas nama luka.

24 Jam
Mungkin hanya waktu yang berbisik
mengenai rambu jalanan yang berganti
dua puluh empat jam tanpa henti
selaksa rerambu kehidupan
yang terus mengajak mewarnai mimpi
berganti dan sulit dimengerti.

Mengukir Cerita
Mengawali hari dengan alunan doa
berfirasat bahwa kita tetap berada pada lingkup pesona
menebar warna bagi sesiapa yang ingkar
tentang warna dan segala cerita
menetapkan muasal lahir
di tubuh memegang takdir.

Medan, Fokus UMSU 2013
Medan Bisnis-Karya Belia, 17 Februari 2013

Rabu, 06 Februari 2013

Jejak Karya_Puisi /2/


Perihal Asa
Cerita kita terdampar di tepian
segala mimpi semacam asa yang marah
meminta langkah untuk tetap berderap
merapikannya dari secarik kertas
menjadi tumpukan nafas penghidupan
yang tak ragu dan goyah
meski waktu sering lamban dan bergerak cepat.

Rayuan Kembang Kenangan
Menguak sedemikian indahnya mawar
mengucap rindu pada satu yang nanar
mencipta tangis di antara kelopak sendu
dan aku rindu
pada kembang yang merayu di atas meja
berkisah tentang kenangan pemberian
atas namamu dan cerita yang tak abadi.

Medan, Fokus UMSU 2013
Medan Bisnis-Karya Belia, 03 Februari 2013

Jejak Karya_Puisi /1/


Kisah Pahit
Tak ada yang dapat digariskan
ketika Tuhan bercakap-cakap tentang takdir
aku lebih memilih mati ketika kisah pahit perih
menjelma alur peraduanku yang sunyi.

Sepuh Senyap
Panas menyepuh meluruh pada sendi tubuh
lalu lenyap seumpama menyekap
dalam riwayat jeritan yang tak pernah senyap
aku bintang yang gelap
menampik penuh kalap
tiada yang mengerti sepetak makam
yang ada hanya sepuh senyap.


Amuk Lara
Terjalnya sepi seakan menguji nyali
masih tentang cinta yang tak terpatri
mengamuk
langit marah atau penuh amarah
mengisahkan hujan pada tepian tangis
mencipta genangan yang tak menyisakan desakan.

Medan, Fokus UMSU 2012
Medan Bisnis-Karya Belia, 30 Desember 2012

Beasiswa dari Botol Bekas_Cerita Anak


Siska ialah anak yang cantik dari keluarga yang kaya. Semua kebutuhannya seperti sekolah, bimbingan belajar dan kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi oleh orang tuanya yang bekerja di salah satu perusahaan. Dia termasuk anak yang mempunyai banyak teman. Namun terkadang karena dia berasal dari keluarga yang kaya, dia masih memiliki sifat angkuh dan sombong.
Di sekolah Siska memiliki dua orang teman dekat, Nuri dan Sukma. Kemanapun pergi mereka selalu bertiga termasuk saat bimbingan belajar pada sore hari setelah pulang sekolah. Namun di sekolah ada seorang anak yang bernama Fatimah yang tidak disukai Siska. Fatimah anak yang cerdas, meskipun siang harinya setelah pulang sekolah ia harus mengumpulkan botol-botol bekas untuk dijual. Dengan hasil dari penjualan botol-botol bekas Fatimah dan Ayahnya, ia dapat bersekolah meski dengan pakaian dan buku seadanya. Ibu Fatimah telah lama meninggal karena penyakit sesak nafas saat Fatimah berumur lima tahun. Meskipun begitu Fatimah tetap semangat sekolah untuk meraih cita-cita menjadi seorang guru.
Siska tidak menyukai Fatimah, karena Fatimah sering kali mengalahkan nilainya di kelas. Siska selalu menjadi urutan kedua setelah Fatimah. Tak jarang Siska menyebut Fatimah dengan sebutan ‘’tukang botol bekas’’. Siska mengetahui upaya Fatimah untuk melanjutkan sekolahnya yang sekarang masih di kelas dua sekolah menengah pertama. Namun ketika Siska sering mengejek Fatimah, Fatimah hanya tersenyum. Ia memiliki kebanggaan sendiri, karena meskipun hanya sebagai tukang pengumpul botol bekas hasil dia dan ayahnya, ia dapat tetap sekolah dan makan meskipun dengan lauk seadanya. Meskipun biaya sekolah sebagian gratis yang Fatimah dapat dari beasiswa, ia tetap harus membantu ayahnya mencukupi kehidupan sehari-hari.
‘’Tukang botol bekas, pasti pulang sekolah ini kamu pergi ke jalanan untuk mengutip botol-botol yang ada di jalanan ya?’’ ketus Siska pada Fatimah yang baru keluar dari kelas.
Namun tetap saja Fatimah hanya tersenyum, toh apa yang dikatakan Siska tidaklah salah. Apa yang dilakukan Fatimah setiap harinya juga bukanlah perbuatan haram.
Siang ini seperti biasa Fatimah bersama ayahnya mencari botol-botol bekas untuk tambahan biaya sekolah dan makan nanti malam. Ayahnya yang meski masih muda namun kelihatan tua karena lusuh tersebut melewati sepanjang jalan sambil membawa gerobak dan karung untuk tempat botol bekas.
‘’Bagaimana tadi di sekolahmu Fatimah?’’Tanya ayah Fatimah.
‘’Alhamdulillah lancar yah, Fatimah dapat nilai seratus lagi pelajaran matematika.’’ Jawab Fatimah ceria.
‘’Alhamdulillah, ternyata anak ayah pintar sekali. Kamu harus tetap semangat sekolah ya Fatimah, ayah akan sekuat tenaga mencari uang untuk sekolah kamu. Kamu harus bisa meraih cita-citamu.’’ Nasihat sang ayah.
‘’Pasti ayah, Fatimah akan tekun belajar.’’
Mereka kembali menyusuri jalanan, tapi keduanya memutuskan berpencar seperti biasanya. Fatimah kekanan dan ayahnya kekiri. Lalu di sore hari mereka bertemu di tempat yang sama untuk pulang kerumah.
Fatimah sering sekali melihat orang-orang membuang botol bekas sembarangan, tidak di tempat sampah yang telah disediakan. Tak hanya botol bekas, tetap juga bungkusan-bungkusan makanan yang dapat mengotori lingkungan. Sambil mengambil botol-botol bekas itu ia juga sekaligus mengambil sampah-sampah bungkusan lalu dibuang ke tempat sampah. Selain mencari nafkah Fatimah juga membantu membersihkan lingkungan agar tetap tampak indah.
Di jalan lain ayah Fatimah tak jauh berbeda, botol-botol bekas terkumpul dan sampah-sampah di jalanan dibuang pada tempatnya. Namun, ketika ayah Fatimah akan menyebrang jalan ada sebuah mobil sedan yang melaju cukup kencang, sehingga sedikit menabrak tubuh lemah ayah Fatimah. Langsung saja pemilik mobil keluar dan menolongnya, tak lain Siska keluar dengan penuh kecemasan. Meskipun terkadang ia sombong tetapi pada orang-orang yang tidak mampu seperti ayah Fatimah ia cukup peduli apalagi mobil ayahnya yang hampir menabrak ayah Fatimah.
‘’Bapak tidak apa-apa, maaf pak saya buru-buru. Mohon maaf sekali, saya bawa kerumah sakit saja pak?’’ Ucap ayah Siska dengan penuh tanggung jawab.
‘’Iya pak, kerumah sakit saja ya?’’ Sambung Siska.
‘’Saya tidak apa-apa pak, nak. Hanya sedikit terjatuh tapi tidak terluka. Saya hanya harus cepat pulang, karena sudah sore dan anak saya sedang menunggu saya.’’ Jawab ayah Fatimah sembari mengutip botol-botol bekas yang berjatuhan dari gerobaknya.
Karena tidak tega langsung saja Siska membantu mengambil botol-botol bekas yang berjatuhan tersebut. Ia merasa kasihan.
‘’Terima kasih nak, kamu baik sekali. Botol-botol bekas ini sangat berguna untuk kami, untuk biaya sekolah anak saya Fatimah dan biaya hidup.’’ Ucapnya.
Siska terkejut dan langsung merasa bersalah pada Fatimah yang saat di sekolah sering diejeknya sebagai seorang ‘’tukang botol bekas’’, padahal hanya karena Fatimah lebih pintar dan berhasil mendapatkan beasiswa yang ia inginkan.
‘’Sama-sama pak, sebagai sesama kita harus saling membantu.’’ Jawab Siska.
Di perjalanan pulang, Siska hanya bisa terdiam dan mengingat kesalahannya pada Fatimah. Dalam hatinya berkata bahwa Fatimah memang berhak atas beasiswa tersebut. Selain karena pintar, Fatimah juga kesulitan membayar iuran sekolah tiap bulannya. Untung saja Fatimah mendapatkan beasiswa.
‘’Tuhan Maha Adil ya Pa.’’ Ucap Siska pada papanya yang sedang menyetir mobil.
‘’Sangat adil, makanya kamu harus bersyukur dengan apa yang kamu miliki sekarang. Karena banyak anak-anak yang harus bekerja keras untuk biaya sekolah bahkan banyak yang tidak bisa sekolah.’’ Tutur papa Siska.
‘’Alhamdulillah, iya pa.’’ Jawab Siska.
Keesokan harinya di sekolah, Siska meminta maaf pada Fatimah karena sering menghina Fatimah. Dan Fatimah dengan senang hati memaafkan Siska meskipun ia telah memaafkan sebelum Siska meminta maaf. Dari dulu Fatimah tidak pernah menyimpan sedikitpun dendam pada Siska. Sejak itu, Fatimah dan Siska menjadi semakin akrab dan menjalin persahabatan.

Fokus UMSU, 2012

Analisa-Taman Riang, 18 November 2012